malam minggu

Terkapar sehabis melangkahkan asa di sepanjang Jl.raya lembang bersama manusia manusia tanpa dosa yg selalu ingin menjadi lebih baik (dalam sudut pandang otaknya sendiri)

Diam,
Terkapar oleh rasa yg dilelahkan oleh kenyataan-kenyataan yg mungkin terasa pahit, (mungkin)
Tersentak,
Dengan rayuan-rayuan yg menampar rasa akan rasa
Berdetak,
Denyut keraguan menggema,
Bergemuruh luka yg hampir sembuh dan terlupa oleh kancah – kancah benih riang

Berjuta kata terurai oleh lidah, mengucap per kalimat dan per makna
Ya aku mengerti apa yg terekam oleh telinga yg lalu disampaikannya ke hati ku,
Namun aku masih terdiam
Entah apa yg ku fikirkan,
Ya aku merasa apa yg terlihat oleh hati yg telah dibuka perlahan oleh celoteh nya, menyugukanku akan pertanyaan-pertanyaan yg tak pernah ingin ku tahu jawabnya,
Satu persatu ucapnya menjelaskan tentang detik demi detik yg terangkum oleh hati yg merasa.

Dan hujan seolah menghantarkan kuyupnya keraguan itu padaku,
Dihadapkannya aku akan jawaban yg tak ku minta,
Aku dipeluk oleh keraguan yg erat
Dengan peluh kebimbangan yang meraja,
Ya aku sperti musyafir yg hilang arah seketika,
Aku tersesat oleh rasaku sendiri,
Atau hanya fatamorgana fikiranku sesaat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s