Entah apa?

Jika ini adalah sebuah hubungan pernikahan, tentunya yang ada di kepalaku saat ini adalah bagaimana aku menyelesaikan dan melalui semua ini dengan seharusnya. Namun ini hanyalah sebuah ikatan anak manusia yang hanya diucap kata, dan tak tertorehkan goresan tinta apapun di atas kertas perjanjian manapun, jadi akupun meragu akupun bimbang. Karena yang ada di kepalaku bukanlah bagaimana aku menyelesaikan semua ini seperti seharusnya, melainkan hanya sebuah keraguan yg mendarah daging, ke bimbangan yang meraja sanu bari, tentang bagaimana aku dapat menghabiskan sisa hidupku dengan seseorang yg kurang lebih 4 tahun lalu tak ku kenal , tentang bagaimana aku tersenyum untuk sekedar meredam emosi saat sang buah hati sedang menungguku di kamar untuk didongengi cerita sebelum tidurnya, tentang bagaimana aku tetap membuatkannya secangkir teh hangat setibanya dirumah selepas kantor saat masih terngiang pertengkaran semalam karena dia lupa akan janjinya pada ku dan buah hati.

Bagaimana bisa seseorang memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan seorang yg puluhan tahun tak ia kenal sebelumnya, yg hanya dalam hitungan bulan memutuskan untuk hidup bersama, yang hanya dalam hitungan tahun sudah dikaruniai putra putri yang cantik dan gagah? Bagaimana bisa seseorang mencoba mengubah sifat dari seseorang yg puluhan tahun tak ia tahu sebelumnya, yang puluh tahun sebelum bertemu dg nya sifatnya mendarah daging dengan hari hari nya hanya dengan hitungan bulan? Bagaimana bisa seseorang mencoba atau bahkan memaksakan dirinya sendiri untuk menyerupai atau menyamai hal-hal yg diingini pasangannya walaupun itu bertolak belakang dengan inginnya? Bagaimana bisa seseorang terus mencoba untuk bersabar dan mengalah, di saat sang pasangan tidak sepaham dengannya? Bagaimana bisa seseorang merelakan sisa hidupnya dihabiskan hanya untuk melihat wajahnya setiap hari, bahkan setiap ia terbangun dari tidur? Bagaimana bisa seseorang memberikan sisa hidupanya pada seseorang yang sering kali menyakiti hati yg lembut itu? Bagaimana bisa seseorang bertahan dengan buah hatinya, walau tak selalu di temani sang suami di saat hujan badai dirumah?

lalu bagaimana semua ini terjadi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s